Kamis, 17 Mei 2012

pemeriksaan diagnostik pada neurobehavior



PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA SISTEM NEUROBEHAVIOR
(pemeriksaan lumbal pungsi, CT scan, MRI dan EEG)
2.1.Pemeriksaan lumbal pungsi
2.1.1. Definisi
Lumbar puncture adalah upaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid. Test ini dilakukan untuk pemeriksaan cairan serebrospinali, mengukur dan mengurangi tekanan cairan serebrospinal, menentukan ada tidaknya darah pada cairan serebrospinal, untuk mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal, dan untuk memberikan antibiotic intrathekal ke dalam kanalis spinal terutama kasus infeksi. (Brunner and Suddarth’s, 1999, p 1630)
Lumbal pungsi adalah jarum berlubang besar disuntikkan ke ruang sub araknoid pada tingkat spasium L3-4 atau L4-5, dan contoh CSS diambil. Tekanan cairan CSS juga diukur. Tekanan normal bervariasi sesuai usia dari 45 mm air pada bayi baru lahir sampai 120 mm air pada orang dewasa. (Hudak & Gallo, 1996)
Lumbal pungsi merupakan pengambilan cairan cerebrospinal untuk pemeriksaan mikroskopis analisa kimia. (Jastremski, dkk. 1996)
2.1.2. Tujuan
Untuk mengukur tekanan cairan cerebrospinal dan untuk mengambil contoh cairan untuk diperiksa di laboratorium. (Jastremski, dkk. 1996)

2.1.3. Indikasi
a.       Mengambil bahan pemeriksaan CSF untuk diagnostic dan persiapan pemeriksaan pasien yang dicurigasi mengalami meningitis, encepahilitis atau tumor malignan.
b.      Untuk mengidentifikasi adanya darah dalam CSF akibat trauma atau dicurigai adanya perdarahan subarachnoid.
c.       Untuk memasukan cairan opaq ke dalam ruang subarakhnoid.
d.      Untuk mengidentifikasi adanya tekanan intrakarnial/ intraspinal, untuk memasukan obat intratekal seperti terapi antibiotic atau obat sitotoksik.
2.1.4. Kontraindikasi
a.       Infeksi dekat tempat penusukan. Kontaminasi dari infeksi akan menyebabkan meningitis.
b.      Pasien dengan peningkatan tekanan intra cranial. Herniasi serebral atau herniasi serebral bisa terjadi pada pasien ini.
c.       Pasien yang mengalami penyakit sendi-sendi vertebra degeneratif. Hal ini akan sulit untuk penusukan jarum ke ruang interspinal.
2.1.5. Persiapan alat
Adapun peralatan yang disiapkan antara lain:
1.         Troleey
2.         Kassa steril
3.         Kapas steril
4.         Sarung tangan steril
5.         Masker dan pelindung mata
6.         Baju steril
7.         Jarum punksi ukuran 19, 20, 23 G dengan stilet.
8.         Manometer spinal dengan stopcock 3 jalur untuk pengelolaan tekanan
9.         Two way tap
10.     Alcohol dalam larutan antiseptic untuk membersihkan kulit.
11.     Anestesi local dengan obat (lidokian 1% 2 x ml), tanpa epinefrin.
12.     Spuit 5 ml dan jarum ukuran 25 G untuk memberikan obat anestesi local
13.     4 selang steril
14.     Tempat penampung csf steril x 4 (untuk bakteriologi, sitologi, biokimia dan untuk menghitung jenis sel)
15.     Plester
16.     Depper
17.     Jam yang ada penunjuk detiknya
18.     Tempat sampah.
2.1.6. Persiapan pasien
1.      Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut.
2.      Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal pungsi.
3.      Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan
4.      Pasien diposisikan tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan lutut ditarik ke abdomen.
Catatan : bila pasiennya obesitas, bisa mengambil posisi duduk di atas kursi, dengan kursi dibalikan dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya. (Brunner and Suddarth’h. 1999 p 1631)
2.1.7. Prosedur
a.       Pre interaksi
1.           Mengkaji kemampuan dan kebutuhan klien
2.           Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan
3.           Mengucapkan salam
4.           Menjaga privasi klien
5.           Menjelaskan tujuan tindakan kepada klien
6.           Mencuci tangan
7.           Memakai sarung tangan steril
b.      Interaksi
8.           Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur.  Lutut pada posisi fleksi menempel pada abdomen, leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada (posisi knee chest)
9.           Pilih lokasi pungsi. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa, meskipun dianjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus spinosus L4). Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan.
10.       Dokter mengenakan masker, tutup kepala, pakai sarung tangan dan gaun steril.
11.       Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup.
12.       Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain, infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen longitudinal dan periosteum
13.       Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya  kedalam jaringan subkutis. Jarum harus memasuki  rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra.
14.       Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahan-lahan, sampai terasa lepas. Ini pertanda ligamentum flavum telah ditembus. Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan serebrospinal. Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. Bila cairan tetap tidak keluar. Masukkan lagi stiletnya dan tusukka jarum lebih dalam. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. Ulangi cara ini sampai keluar cairan.
15.       Bila akan mengetahui tekanan CSF, hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan, normalnya 60 – 180 mmHg dengan posisi pasien berrbaring lateral recumbent. Sebelum mengukur tekanan, tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan.
16.       Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal, hindarkan mengedan.
17.       Untuk mengetahui  apakah rongga subarahnoid tersumbat atau tidak, petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10 detik. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan, tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik.
18.       Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan. Masukkan cairan tesbut dalam 3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen, setiap tabung diisi 1 ml cairan CSF. Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan hitung sel, biakan dan pewarnaan gram, protein dan glukosa. Untuk pemeriksaan none-apelt prinsipnya adalah globulin mengendap  dalam waktu 0,5 jam pada larutan asam sulfat. Cara pemeriksaanya adalah kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0,7 ml dengan menggunakan pipet, kemudian masukkan cairan CSF 0,5. diamkan selama 2 – 3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih. Cara penilainnya adalah sebagai berikut:
(  - )     Cincin putih tidak dijumpai
( + )     Cincin putih sangat  tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih
( ++ )   Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi                    opolecement (berkabut)
( +++ ) Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh
( ++++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat keruh.
Untuk test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin, prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air. cAranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF, perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan.
19.       Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada pasien dengan hydrocepalus berat maka maksimal cairan dikeluarkan adalah 100 cc.
c.       Terminasi
20.       Setelah semua tindakan selesai, manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya. Pasang balutan pada bekas tusukan.
21.       Mencuci tangan.
22.       Observasi pasien mengenai orientasi, gelisah, perasaan mengantuk, mual, irritabilitas serebral (fitting, twitching, spasticity atau kelemahan tungkai) dan melaporkannya kepada dokter.
23.       Anjurkan pasien melaporkan adanya nyeri kepala dan memberikan analgerik sesuai program.
24.       Klien tidur terletang tanpa bantal selama 2 – 4 jam
25.       Observasi tempat pungsi terhadap kemungkinan pengeluaran cairan CSF
26.       Bila timbul sakit kepala, lakukan kompres es pada kepala, anjurkan tekhnik relaksasi, bila perlu pemberian analgetik dan tidur sampai sakit kepala hilang.
27.       Melaporkan ke dokter bila ada hal yang tidak bisa diatasi.
2.1.8. Hal-hal yang perlu diperhatikan
·         Berat badan pasien yang akan melakukan pemeriksaan lumbal pungsi
·         Lokasi tempat dilakukannya pengambilan cairan CSS
2.1.9. Diagnosa yang mugkin muncul
·         Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisik kompresi saraf: spasme otomatis.
·         Anxietas atau koping individu tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi: perubahan status kesehatan ketidakadekuatan mekanisme koping
·         Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka pada daerah lumbal
·         Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan pem
·         Retensi urinarius berhubungan dengan cedera vertebra
·         Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
2.2.Pemeriksaan CT scan (Computerized Axial Tomografi)
2.2.1. Definisi
CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak.
CT scan digunakan untuk menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cedera ligamen atau tendon. (Brunner & Suddarth, 2002)
Pemeriksaan ini mendeteksi gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses, perubahan vaskuler: malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark brain contusion, brain atrofi, hydrocephalus dan inflamasi.
2.2.2. Prinsip kerja
Film yang menerima proyeksi sinar diganti dengan alat detektor yang dapat mencatat semua sinar secara berdipensiasi. Pencatatan ini dilakukan dengan mengkombinasikan tiga pesawat detektor, dua diantaranya menerima  sinar yang telah menmbus tubuh dan yang satunya berfungsi sebagai detektor aferen yang mengukur intensitas sinar rontgen yang telah menembus tubuh dan penyinaran dilakukan menurut proteksi dari tiga titik, menurut posisi jam 12, 10 dan jam 02 dengan memakai waktu 4,5 menit.
2.2.3. Tujuan
Menemukan patologi otak dan medulla spinalis dengan teknik scanning/pemeriksaan tanpa radioisotope. Dengan demikian CT scan hampir dapat digunakan untuk menilai semua organ dalam tubuh, bahkan di luar negeri sudah digunakan sebagai alat skrining menggantikan foto rontgen dan ultrasonografi. Yang penting pada pemeriksaan CT scan adalah pasien yang akan melakukan pemeriksaan bersikap kooperatif artinya tenang dan tidak bergerak saat proses perekaman.
2.2.4. Indikasi
·         Tumor, massa 
·         Aneurisma 
·         Abses 
·         Lesi pada hilus atau mediastinal (Rasad, S. 2000) 
2.2.5. Kontra indikasi
·         Pasien dengan alergi
·         Pasien asma
·         pasien yang memiliki masalah ginjal
2.2.6. Persiapan alat
Alat dan bahan untuk pemeriksaan CT-Scan thorax diantaranya: 
1.      Pesawat CT-Scan 
2.      Tabung oksigen
3.      Media kontras 
4.      Alat-alat Suntik
5.      Spuit
6.      Kassa dan kapas
7.      Alkohol 
2.2.7. Persiapan pasien
1.      Pasien harus diberitahu sebaiknya dengan keluarga. Pasien diberi gambaran tentang alat yang akan digunakan. Bila perlu berikan gambaran dengan menggunakan kaset video atau poster, hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengertian pada pasien dengan demikian mengurangi stress sebelum waktu prosedur dilaukuan. Test awal yang dilakukan meliputi: kekuatan untuk diam ditempat (dimeja scanner) selama 45 detik; melakukan pernafasan dengan aba-aba (untuk keperluan bila ada permintaan untuk melakukannya) saat dilakukan pemeriksaan.; mengikuti aturan untuk memudahkan injeksi zat kontras.
2.      Penjelasan kepada klien bahwa setelah penyuntikan zat kontras wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh badan. Hal ini merupakan hal yang normal dari reaksi obat tersebut. Perhatikan keadaan klinik klien apakah pasien mengalami alergi terhadap iodine. Apabila pasien merasakan adanya rasa sakit berikan analgetik dan bila pasien merasa cemas dapat diberikan minor transqualizer. Bersihkan rambut pasien dari jelli dan obat-obatan. Rambut tidak boleh dikelabang dan tidak memakai wig.
2.2.8. Prosedur
a.       Pre interaksi
1.      Mengkaji kemampuan dan kebutuhan klien
2.      Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan
3.      Mengucapkan salam
4.      Menjaga privasi klien
5.      Menjelaskan tujuan tindakan kepada klien
6.      Mencuci tangan
b.      Interaksi
7.      Persiapan Media Kontras 
Penggunaan media kontras dalam pemeriksaan CT-Scan diperlukan untuk menampakkan struktur-struktur anatomi tubuh seperti pembuluh darah dan organ-organ lainnya dapat dibedakan dengan jelas.
8.      Teknik injeksi intravena:
a)      Jenis media kontras : media kontras dengan osmolaritas rendah
b)      Volume media kontras : 80 – 100 ml 
c)      Injeksi rata-rata (kecepatan) : 2 ml / detik 
d)     Waktu Scan : melakukan scanning pada saat 25 detik setelah pemasukan awal media kontras (delay). 
9.      Teknik Pemeriksaan 
a)      Posisi pasien : Supine diatas meja pemeriksaan dengan posisi kepala dekat dengan gantry.
b)      Posisi objek :
o   Mengatur pasien sehingga Mid Sagital Plane (MSP) tubuh sejajar dengan lampu indicator longitudinal. Kedua tangan pasien di atas kepala.
o   Memfiksasi lutut dengan menggunakan body clem.
o   Menjelaskan kepada pasien untuk inspirasi penuh dan tahan nafas pada saat pemeriksaan berlangsung.
c)      Scan Parameter Scan parameter pemeriksaan CT-Scan thorax adalah seperti tercantum pada tabel dibawah ini :
d)     Foto sebelum dan sesudah memasukkan Media Kontras Kasus seperti tumor dibuat foto sebelum dan sesudah pemasukan media kontras. Tujuan dibuat foto sebelum dan sesudah media kontras adalah untuk melihat apakah ada jaringan yang menyerap kontras banyak, sedikit atau tidak sama sekali.
Gambar yang dihasilkan dalam pemeriksaan CT-Scan Thorax dapat diwakili beberapa kriteria :
·         Potongan axial 1
o   Merupakan bagian paling superior dari thorax yang disebut apeks paru-paru. Kriteria gambar yang tampak adalah (A) vena jugularis interna kanan, (B) arteri karotis komunis kanan, (C) Trakhea, (D) Sternum, (E) Sternoklavikula joint, (F) klavikula, (G) Vena jugularis interna kiri, (H) arteri subklavikula kiri, (I) arteri karotis komunis kiri, (J) vertebra thorakal II – thorakal III, (K) arteri subklavia kanan, (L) prosesus acromion dari scapula, dan (M) caput humerus.
·         Potongan axial 3
o   Kriteria yang tampak antara lain (A) vena brachiocephalic kanan (dengan media kontras), (B) arteri innominata, (C) manubrium sterni, (D) Vena brachiophelic kiri, (E) Arteri komunis karotis kiri, (F) arteri subklavia kiri, (G) oesofagus, (H) vertebra thorakal III-thorakal IV, dan (I) trakhea.
·         Potongan axial 5
o   Kriteria gambar yang tampak adalah (A) vena kava superior, (B) Aorta ascenden, (C) Corpus sternum, (D) Window aortopulmonary, (E) oesoagus, (F) aorta descenden, (G) vertebra thorakal IV-thorakal V, dan (H) Trakhea.

·         Potongan axial 7
o   Kriteria gambar yang tampak antara lain (A) Vena kava superior, (B) Aorta ascenden, (C) arteri pulmonari utama, (D) Vena pulmonari kiri, (E) arteri pulmonari kiri, (F) aorta descenden, (G) Vertebra thorakal VI-thorakal VII, (H) Vena azygos, (I) oesofagus, (J) arteri pulmonari kanan.
·         Potongan axial 10
o   Kriteria Gambar yang tampak adalah (A) Vena kava inferior, (B) atrium kanan, (C) Katup trikuspidalis, (D) perikardium, (E) ventrikel kanan, (F) septum interventrikular, (G) ventrikel kiri, (H) atrium kiri, (I) aorta descenden, (J) vertebra thorakal IX-thorakal X, (K) Oesofagus, (L) hemidiafragma kanan.
10.  Posisi terlentang dengan tangan terkendali
11.  Meja elektronik masuk kedalam meja scanner
12.  Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.
13.  Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama  20-45 menit
14.  Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer.
15.  Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan memakai protektif lead approan.
c.       Interminasi
16.  Sesudah pengambilan gambar pasien dirapihkan
17.  Membereskan alat
18.  Mencuci tangan
19.  Mengevaluasi respon pasien
20.  Melakukan pendokumentasian
2.2.9. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a.  Sebelum pemeriksaan
·      berat badan klien dibawah 145 Kg (pertimbangan tingkat kekuatan scanner)
·      Kesanggupan klien untuk tidak mengadakan perubahan selama 20-45 meni (berkaitan dg lamanya pemeriksaan)
·      Kaji kemungkinan klien alergi terhadap iodine, sebab akan disuntik dg  zat kontras berupa iodine based contras material sebanyak 30 ml
b.  Setelah pemeriksaan
·      observasi keadaan alergi terhadap zat kontras yang disuntikkan. Bila terjadi alergi dapat diberikan benadryl 50 mg
·      mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin akan kelelahan selama prosedur berlangsung
·      ukur intake dan output. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat kontras yang eliminasinya selama 24 jam. Oliguri merupakan gejala gangguan fungsi ginjal. Memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter.
2.2.10.                 Diagnosa yang mungkin muncul
·      Hipersensitivitas berhubungan dengan injeksi intravena.
·      Anxietas atau koping individu tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi: perubahan status kesehatan ketidakadekuatan mekanisme koping.
·      Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan prosedur tindakan yang dilakukan.
·      Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif
2.3.Pemeriksaan MRI
2.3.1.      Definisi
Pemeriksaan MRI merupakan salah satu bentuk pemeriksaan radiologi yang menggunakan prinsip magnetisasi. Medan magnet digunakan untuk proses magnetisasi komponen ion hidrogen dari kandungan air di tubuh. MRI dapat menggambarkan dengan sangat jelas dan kontras berbagai bagian organ tubuh. (www.bethesda.or.id)
Magnetic resonance imaging (MRI) adalah teknik pencitraan khusus, noninovasif, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jaringan lunak melalui tulang) jeringan lunak seperti otot, tendon dan tulang rawan. (brunner & suddarth, 2002)
2.3.2.      Indikasi
Pemeriksaan MRI dapat dilakukan pada berbagai organ dan sistem tubuh. Sebuah jaringan tubuh yang rusak akan menimbulkan pembengkakan (edema). Adanya pembengkakan ini akan memberikan warna kontras yang berbeda dengan jairngan normal. MRI dapat digunakan untuk berbagai kelainan di bidang saraf, anggota gerak tubuh, tumor, dan penyakit jantung.
·      Di bidang saraf: stroke, tumor otak, kelainan mielinisasi otak, gangguan aliran cairan otak/hidrocephalus, beberapa bentuk infeksi otak, gangguan pembuluh darah otak, dsb.
·      Di bidang muskuloskeletal: tumor jaringan tulang atau otot, kelainan saraf tulang belakang, tumor spinal, jeputan akar saraf tulang belakang, dsb.
·      Di bidang kardiologi: pembuluh darah besar, pemeriksaan MRA (Magnetic Resonance Angiografi) carotis, dsb.
Alat MRI dapat pula digunakan untuk berbagai pemeriksaan khusus. Pemeriksaan FLAIR dapat dilakukan untuk berbagai penyakit demielinisasi. Pemeriksaan diffusion weighted imaging (DWI) MRI untuk deteksi awal adanya stroke iskemik. Pemeriksaan DWI MRI dapat mendeteksi perubahan di otak setelah 10 menit terjadinya sumbatan, jauh lebih cepat daripada CT-Scan yang mampu mendeteksi iskemia setelah 4-6 jam pasca sumbatan. MRI mampu memvisualisasikan dengan sangat jelas kondisi pembuluh darah di tubuh. Suatu prosedur yang disebut MRA (Magnetic Resonance Angiografi).
Gambar di bawah dengan sangat jelas menunjukkan kondisi pembuluh darah besar di leher yang disebut pembuluh darah karotis. Kelainan pembuluh darah berupa penyempitan, kelainan tumbuh (hipoplasia), penyumbatan akan dengan sangat jelas tervisualisasi. (www.bethesda.or.id)
 

2.3.3.      Kontra indikasi
Pemeriksaan MRI ini, tidak boleh dilakukan pada wanita yang hamil muda (trisemester I). (www.bethesda.or.id)
2.3.4.      Persiapan alat
Alat yang digunakan adalah alat MRI (Magnetic Resonance Imaging)
2.3.5.      Persiapan pasien
1.      Pasien tetap boleh melakukan aktifitas rutin serta makan dan minum obat seperti biasa.
2.      Khusus untuk pemeriksaan saluran empedu (MRCP), pasien perlu berpuasa selama 6 jam sebelum pemeriksaan.
3.      Pasien diminta untuk melepas semua barang - barang yang terbuat dari logam, maupun elektronik, seperti : perhiasan, jam tangan, kaca mata, gigi palsu, alat bantu dengar, handphone, kartu kredit, kartu ATM, dompet dan sebagainya. Barang - barang tersebut dapat menginterferensi gambar yang terjadi sehinggadapat mempengaruhi hasil MRI. Disamping itu, medan magnet yang dipancarkanoleh alat MRI dapat merusak barang-barang yang terbuat dari elektronik. Proses Pemeriksaan MRI.
2.3.6.      Prosedur
a.       Pre interaksi
1.      Mengkaji kemampuan dan kebutuhan klien
2.      Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan
3.      Mengucapkan salam
4.      Menjaga privasi klien
5.      Menjelaskan tujuan tindakan kepada klien
b.      Interaksi
6.      Pasien berbaring terlentang dengan posisi kedua tangan disamping badan.
7.      Meja MRI akan bergerak maju kedalam posisi medan magnet yang tepat.
8.      Pasien akan mendengar suara dari gelombang radio frekwensi, seperti suara ketukan selama jalannya pemeriksaan.
9.      Selama pemeriksaan MRI, pasien akan selalu dibawah pengawasan petugas,dandapat langsung berkomunikasi dengan petugas MRI.5. Pasien akan diberi bel di tangan, dan dapat ditekan untuk memanggil petugasMRI, atau mengalami kondisi yang kurang nyaman.
10.  Pada umumnya pemeriksaan MRI membutuhkan waktu sekitar 40 menit.
c.       Interminasi
11.  Setelah pemeriksaan MRI selesai, pasien dapat melakukan aktifitas normal seperti biasa
12.  Membereskan alat
13.  Mencuci tangan
14.  Mengevaluasi respon pasien
15.  Melakukan pendokumentasian.
2.3.7.      Hal-hal yang perlu diperhatikan
·      Pemeriksaan MRI ini, tidak boleh dilakukan pada wanita yang hamil muda(trisemester I)
·      Pasien memberikan informasi kepada petugas sebelum dilakukan pemeriksaan.
·      Pasien tidak diperkenankan membawa barang elektronik dan benda logam.
2.3.8.      Diagnosa yang mungkin muncul
·      Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan prosedur tindakan yang dilakukan.
·      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen pencedera fisik kompresi saraf: spasme otomatis.
·      Anxietas atau koping individu tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi: perubahan status kesehatan ketidak adekuatan mekanisme koping
2.4.Pemeriksaan EEG
2.4.1.      Definisi
Elektroensefalografi (EEG) adalah suatu cara untuk merekam aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh.
Elektroensefalografi (EEG) adalah alat yang digunakan untuk merekam aktivitas umum elektrik di otak, dengan meletakkan elektroda-elektroda pada daerah kulit kepala atau dengan menempatkan mikroelektroda dalam jaringan otak. Pemeriksaan ini memberikan kajian fisiologis aktifitas serebral. (Brunner & Suddarth, 2002)
2.4.2.      Tujuan
Untuk mendiagnosis gangguan fungsional dan sebagai indikator kematian otak. (Brunner & Suddarth, 2002)
2.4.3.      Macam-macam EEG
Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang mencerminkan adanya gaya listrik yang diproduksikan pada ujung-ujung dendrit, sebagai fenomena potensial aksi neuron-neuron yang disalurkan kedndrit-dendritnya dikorteks serebri. Potensial dendrit pada korteks selalu berubah-ubah juga. Fluktuasi inilah yang tercatat pada kertas EEG. Dari sekian banyak fluktuasi, maka dapat dibedakan menurut frekuensinya  dan menurut pada gelombangnya.
a.       Empat gelombang menurut frekuensinya:
o Gelombang Alfa, bersiklus 8 – 13 perdetik
o Gelombang Beta, bersiklus lebih dari 13 perdetik
o Gelombang teta, bersiklus 4 – 7 perdetik
o Gelombang Delta, bersilus kurang dari 4 perdetik
b.      Fluktuasi potensial otak menurut pola gelombang
o gelombang  lamda, muncul sebagai gelombang positif dekat lobus oksipitalis terutama jika mata menatap sesuatu dengan penuh perhatian.
o Gelombang tidur, sekelompok gelombang dengan frekuensi 10 – 15 siklus perdetik yang hilang pada waktu tidur dangkal, berbentuk  “spindel”.
o Kompleks K,  pola gabungan yang terdiri dari satu atau beberapa gelombang lambat berbaur dengan gelombang-gelombang berfrekuensi cepat, timbul karena ada rangsangan sewaktu tidur dangkal.
o Gelombang verteks, pola gelombang berbentuk jam, bilateral simetrik didaerah para sagital, antara daerah dan post sentral, sering muncul bersama kompleks K pada waktu tidur dangkal.
c.       Gelombang patologis
o Gelombang runcing (Spike) yaitu gelombang yang runcing dan berlalu cepat (kurang dari 60 milidetik) sering ia muncul secara folifasik, yaitu dengan defleksi keatas kebawah secara berselingan.
o Gelombang tajam (sharp wave) yaitu gelombang yang meruncing tetapi berlalu lebih lama dari 60 milidetik. Juga gelombang tajam timbul secara polifasik.
o Gelombang runcing (spike wave)ialah kompleks yang terdiri dari gelombang runcing yang langsung disusul oleh gelombang lambat. Kompleks tersebut muncul dengan frekuensi 3 spd secara teratur, sinkron bilateral dan hilang timbul secara tiba-tiba.
o Gelombang runcing multipel ialah ledakan dari sejumlah gelombang runcing yang bangkit sekali atau berkali-kali dan biasanya disusul oleh gelombang lambat.
d.      Hypsarithmia ialah kompleks yang terdiri dari gelombang lambat yang bervoltase tinggi dan iramanya tidak teratur dimana berbaur gelombang runcing dan tajam.
2.4.4.      Indikasi
a.       penderita dicurigai atau dengan epilepsi
b.      Membedakan kelainan otak organik
c.       Mengidentifikasi infark pembuluh darah atau adanya lesi (tumor, hematom, abses)
d.      Diagnosa retardasi mental atau over dosis obat
e.       Menentukan kematian jaringan otak.
2.4.5.      Kontra indikasi
a.       adanya luka luas di kulit kepala.
2.4.6.      Persiapan alat
1.      Sebelum digunakan alat / pesawat EEG dipanaskan terlebih dahulu.
2.      Elektrode dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu bagian kiri, tengah dan kanan sesuai dengan yang tertera pada junction box.
3.      Kertas EEG sudah terpasang dengan sempurna.
4.      Elefik paste, skin pure, sisir, metlyn, spidol, dipersiapkan di meja, dan kalau perlu karet gelang untuk pasien yang berambut panjang.
2.4.7.      Persiapan pasien
1.      Sebelum di lakukan EEG pasien dianjurkan untuk keramas terlebih dahulu (untuk pasien rawat jalan) dan tidak diperbolehkan memakai minyak rambut. Untuk pasien rawat inap tidak diharuskan keramas        (kalau kondisi pasien tidak memungkinkan)
2.      Pasien tidak diperbolehkan memakai minyak rambut, supaya electrode melekat dengan sempurna.
3.      Pasien/keluarganya membayar biaya sesuai dengan tarif yang telah ditentukan, kecuali pasien Astek/Askes.
4.      Pasien bayi/anak-anak/pasien dewasa yang gelisah kolaborasi dengan dokter untuk pemberian premedikasi.
5.      Sebelum pemberian premedikasi keluarga pasien diberi pengertian terlebih dahulu kemudian diminta untuk menandatangani inform concent yang telah disediakan.
6.      Pasien bayi/anak-anak ditimbang dahulu untuk menentukan dosis obat premedikasi.
2.4.8.      Prosedur
a.       Pre interaksi
1.      Mengkaji kemampuan dan kebutuhan klien
2.      Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan
3.      Mengucapkan salam
4.      Menjaga privasi klien
5.      Pasien/keluarganya diberi penjelasan terlebih dahulu tentang tindakan yang akan dikerjakan.
6.      Perawat cuci tangan.
b.      Interaksi
7.      Kepala diukur dengan menggunakann metlyn, posisi pasien duduk dikursi (kalau kondisi pasien tidak memungkinkan, diukur dengan posisi tidur terlentang pada tengkuk diberi bantalan supaya tidak ada penekanan) dengan menggunakan system Ten – Twenty. Hasil pengukuran diberi tanda dengan spidol merah supaya jelas.
8.      Selesai pengukuran kepala yang sudah bertanda spidol merah dibersihkan dengan kapas alcohol, kemudian digosok perlahan dengan skin pure, elefik paste ditempelkan sesuai hasil pengukuran tadi, sampai selesai.
9.      Pasien dianjurkan untuk tidur terlentang, tengkuk diberi bantalan kemudian electrode (2 elektrode) di tempelkan di atas elefik .
10.  Sebelum mulai merekam pasien dianjurkan untuk tetap rileks dan  diberi penjelasan apa yang harus dilakukan pada saat perekaman.
11.  Rekaman/pemeriksaan EEG diawali dengan kalibrasi sesuai dengan kebutuhan.
12.  Perekaman dimulai dari pattern 1 (satu) sampai 6 (enam) dengan waktu kurang lebih 15 sampai 20 menit (60 lembar kertas).
13.  Pattern 1 (pertama) pasien dianjurkan untuk menutup dan membuka mata (kecuali pasien yang tidak sadar atau pasien yang dengan premedikasi) sampai 10 lembar kertas atau lebih kurang 3 menit.
14.  Pattern ke 2 (kedua) pasien dianjurkan untuk menutup mata dan menjawab pertanyaan yang diberikan dan tidak diperbolehkan menggeleng atau menganggukkkan kepala, waktu sama dengan pattern pertama.
15.  Pattern ke 3 (ketiga) pasien dianjurkan untuk membuka mata kemudian dilakukan PS (photic stimulation) sampai selesai kemudian pasien diminta untuk menutup mata lagi, pasien dianjurkan untuk nafas panjang atau HV (hiper ventilasi) waktu sama dengan pattern sebelumnya.
16.  Setelah nafas panjang selesai pasien nafas biasa dan diperbolehkan tidur sampai perekaman selesai.
17.  Pattern keempat sampai empat lembar kertas, kertas dibalik dan dilanjutkan sampai sepuluh lembar kertas dengan waktu yang sama tanpa aktivitas, begitu juga dengan pattern kelima dan keenam.
18.  Pada pasien yang memakai obat premedikasi mulai dari pattern pertama sampai keenam  tidak dilakukan aktivitas. Setelah pattern keenam kembali ke pattern ketiga dan pasien dibangunkan untuk dilakukan Photik .
19.  Pada akhir perekaman dilakukan kalibrasi lagi.
20.  Apabila di tengah – tengah perekaman grafik mengecil atau terlalu tinggi maka kalibrasi bisa dirubah sesuai dengan kebutuhan.
21.  Segala sesuatu yang terjadi pada saat perekaman dicatat pada kertas perekaman.
c.       Interminasi
22.  Setelah proses perekaman selesai, electrode dilepas dimasukkan dalam air yang sudah disediakan pada suatu tempat dan kulit kepala dibersihkan dengan kapas basah.
23.  Pada kertas perekaman diisikan identitas pasien, tanggal, dan nomor register.
24.  Hasil perekaman diberikan pada pasien/keluarganya untuk kembali ke dokternya,  kecuali pasien konsulan hasil perekaman diserahkan  ke dokter spesialis saraf terlebih dahulu untuk pembacaan sebelum kembali pada dokter yang bersangkutan.
25.  Elektrode dan alat – alat yang lain dibersihkan, dirapikan, perawat cuci tangan.
2.4.9.      Hal-hal yang perlu diperhatikan
a.       Sebelum pemeriksaan
·         obat-obatan depresan susunan saraf pusat (alkohol atau tranqualizer)  atau stimulan  tidak diberikan selama 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan karena akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas listrik otak. Dokter akan memberikan instruksi untuk pemberian anti konvulsi bila perlu 24 – 48 jam sebelum tindakan.
·         Cairan yang mengandung caffein seperti kopi, cokelat dan the tidak diberikan selama 24 jam sebelum tindakan dilakukan
·         Rambut harus bersih, bebas dari spray, minyak lotion dan hair fastener.
·         Pasien harus makan pagi sebelum melakukan pemeruiksaan, karen a hipoglikemia menyebabkan ketidak normalan potensial listrik.
b.      Sesudah pemeriksaan
·         Perhatikan pola napas pasien
·         Perhatikan kebersihan rambut pasien.
2.4.10.  Diagnosa yang mungkin muncul
·      Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan prosedur tindakan yang dilakukan
·      Anxietas atau koping individu tidak efektif berhubungan dengan krisis situasi: perubahan status kesehatan ketidak adekuatan mekanisme koping
·      Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif


DAFTAR PUSTAKA
bared18.wordpress.com/.../pengkajian-sistem-persyarafan
Brunner and Suddarth’s. 1999. Medical Surgical Nursing. 9th Edition. Lippincot : Philadelphia
Hudak dan Gallo. (1996). Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC
Kee, joyce lefever. (1997). Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik. Alih bahasa: Easter Nurses. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson. (2007). Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Alih bahasa Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer Suzanne C. (2002)  Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth jilid III. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar