Kamis, 17 Mei 2012

perkembangan anak usia sekolah (7-12 tahun)

PERKEMBANGAN
ANAK USIA SEKOLAH (7-12 TAHUN)
A.    Pengertian pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan (growth) adalah peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri menyintesis protein-protein secara berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat-alat tubuh.
Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur - angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat - alat tubuh.

B.     Factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
1.    Faktor hereditas
Adalah factor keturunan secara genetic dari orang tua kepada anak.
2.    Faktor lingkungan
a.       Lingkungan pranatal
v    Gizi ibu ketika hamil
v    Posisi janin
v    Zat kimia
v    Faktor hormonal
b.      Lingkungan pascanatal
v    Sosial budaya
v    Nutrisi
v    Cuaca/iklim
v    Olahraga
v    Status kesehatan
v    Posisi anak dalam keluarga

C.    Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak usia sekolah (7-12 tahun)

1.    Parameter umum
Rata-rata tinggi badan anak usia 7-12 tahun 113 cm dan rata-rata BB anak usia 6-12 tahun mencapai 21 kg.
2.    Nutrisi
Kebutuhan kalori harian anak usia 7-12 tahun menurun sehubungan dengan ukuran tubuh, dan rata-rata membutuhkan 2400 kalori perhari. Banyaknya anak yang tidak menyukai sayuran, biasanya hanya satu jenis makanan,yang disukai orang tua memiliki peranan penting dalam mempengaruhi pilihan anak terhadap makanan.
3.    Pola tidur
Kebutuhan tidur setiap anak bervariasi, biasanya 8 sampai 9,5 jam setiap malam.
4.    Kesehatan gigi
Mulai sekitar usia 6 tahun gigi permanen tumbuh dan anak secara bertahap kehilangan gigi desi dua.

5.    Eliminasi
Pada usia 6 tahun, 85% anak memiliki kendala penuh terhadap kandung kemih dan defekasi, enurisis nocturnal (mengompol) terjadi pada 15% anak berusia 6 tahun.

D.    Perkembangan motorik
1.    Motorik kasar
Biasanya anak bermain sepatu roda, berenang, kemampuan berlari dan melompat meningkat secara progresif.
2.    Motorik halus
Anak mampu menulis tanpa merangkai huruf. Misalnya, hanya menulis salah satu huruf saja.
                        Pada usia ini anak masih sukar terhadap kecelakaan, terutama karena peningkatan kemampuan motorik, orang tua harus terus memberikan bimbingan pada anak dalam situasi yang baru dan mengancam keamanan.

E.     Perkembangan psikososial
1.    Tinjauan (Erikson)
a.       Erikson menyatakan krisis psikososial yang dihadapi sebagai “Industri Versus Inferioritas”. “Industri” yang dimaksud adalah kemampuan seorang anak dalam menguasai tugas perkembangannya (kepandaian), sedangkan “Inferioritas” merupakan perasaan dimana seorang anak merasa rendah diri dan kepercayaan dirinya turun akibat suatu kegagalan dalam memenuhi standar  yang ditetapkan orang lain untuk anak.
1.      Hubungan dengan orang terdekat anak meluas hingga mencakup teman sekolah dan guru.
2.      Anak usia sekolah secara normal telah menguasai tiga tugas perkembangan pertama (kepercayaan, otonomi, dan inisiatif) dan saat ini berfokus pada penguasaan kepandaian (Industri).
3.      Perasaan industri berkembang dari suatu keinginan untuk pencapaian.
4.      Perasaan inferioritas dapat tumbuh dari harapan yang tidak realistis atau perasaan gagal dalam memenuhi standar yang ditetapkan orang lain untuk anak. Ketika anak merasa adekuat, rasa percaya dirinya akan menurun.
b.      Anak usia sekolah terikat dengan tugas dan sktivitas yang dapat ia selesaikan.
c.       Anak usia sekolah mempelajari peraturan, kompetensi, dan kerja sama untuk mencapai tujuan.
d.      Hubungan sosial menjadi sumber pendukung yang penting semakin meningkat.
2.    Rasa takut dan stressor
a.       Sebagian perasaan takut yang terjadi sejak masa kanak-kanak awal dapat terselesaikan atau berkurang. Namun, anak dapat menyembunyikan rasa takutnya untuk menghindari dikatakan sebagai “pengecut” atau “bayi”.
b.      Rasa takut yang sering terjadi:
1.      Gagal di sekolah
2.      Gertakan
3.      Guru yang mengintimidasi
4.      Sesuatu yang buruk terjadi pada orang tua
c.       Stressor yang sering terjadi
1.      Stressor untuk anak usia sekolah yang lebih kecil, yaitu dipermalukan, membuat keputusan, membutuhkan izin/persetujuan, kesepian, kemandirian dan lawan jenis.
2.      Stressor untuk anak usia sekolah yang lebih besar yaitu kematangan seksual, rasa malu, kesehatan, kompetensi, tekanan dari teman sebaya, dan keinginan untuk menggunakan obat-obatan.
d.      Orang tua dan pemberi asuhan lainnya dapat membantu mengurangi rasa takut anak dengan berkomunikasi secara empati dan perhatian tanpa menjadi overprotective.
e.       Anak perlu mengetahui bahwa orang-orang akan mendengarkan mereka dan memahami perkataannya.
3.      Sosialisasi
a.       Masa usia sekolah merupakan periode perubahan dinamis dan kematangan seiring dengan peningkatan keterlibatan anak dan aktivitas yang lebih kompleks, membuat keputusan, dan kegiatan yang memiliki tujuan.
b.      Ketika anak usia sekolah belajar lebih banyak mengenai tubuhnya, perkembangan sosial berpusat pada tubuh dan kemampuannya.
c.       Hubungan dengan teman sebaya memegang peranan penting yang baru.
d.      Aktivitas kelompok, termasuk tim olahraga, biasanya menghabiskan banyak waktu dan energi.
4.      Bermain dan mainan
a.       Bermain menjadi lebih kompetetif dan kompleks selama periode usia sekolah.
b.      Karakteristik kegiatan meliputi tim olahraga, klub rahasia, aktivitas “geng”, pramuka atau organisasi lain. Puzzle yang rumit, koleksi, permainan papan, membaca dan mengagumi pahlawan tertentu.
c.       Peraturan dan ritual merupakan aspek penting dalam bermain dan permainan.
d.      Mainan, permainan, dan aktivitas yang meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan meliputi:
1.      Permainan kartu dan papan bertingkat yang rumit
2.      Buku dan kerajinan tangan
3.      Musik dan seni
4.      Kegiatan olahraga (mis:berenang)
5.      Kegiatan tim
6.      Video game (tingkatkan pemantauan orang tua terhadap isi permainan untuk menghindari pajanan terhadap perilaku kekerasan dan seksual yang tidak dikehendaki).
5.      Disiplin
a.       Anak usia sekolah mulai menginternalisasikan pengendalian diri dan membutuhkan sedikit pengarahan dari luar. Mereka melakukannya, walaupun membutuhkan orang tua atau orang dewasa lain yang dipercaya untuk menjawab pertanyaan dan memberikan bimbingan untuk membuat keputusan.
b.      Tanggungjawab pekerjaan rumah tangga membantu anak usia sekolah merasa bahwa mereka merupakan bagian penting keluarga dan meningkatkan rasa pencapaian terhadap prestasi mereka.
c.       Izin mingguan, diatur sesuai dengan kebutuhan dan tugas anak, membantu dalam mengajarkan keterampilan, nilai, dan rasa tanggungjawab.
d.      Ketika mendisiplinkan anak usia sekolah, maka orang tua dan pemberi asuhan lain harus menyusun batasan yang konkret dan beralasan (memberikan penjelasan yang meyakinkan) serta mempertahankan peraturan sampai batas minimal.

F.     Perkembangan psikoseksual
1.      Tinjauan (Freud)
a.       Periode latensi, yang terdiri dari usia 5-12 tahun, menunjukkan tahap yang relative tidak memperhatikan masalah seksual sebelum masa pubertas dan remaja.
b.      Selama periode ini, perkembangan harga diri berkaitan erat dengan perkembangan keterampilan untuk menghasilkan konsep nilai dan menghargai seseorang.
2.    Perkembangan seksual
a.       Masa peremajaan dimulai pada akhir usia sekolah, perbedaan pertumbuhan dan kematangan diantara kedua gender semakin nyata pada masa ini.
b.      Pada tahap awal usia sekolah, anak memperoleh lebih banyak pengetahuan dan sikap mengenai seks. Selama usia sekolah, anak menyaring pengetahuan dan sikap tersebut.
c.       Pertanyaan mengenai seks memerlukan jawaban jujur yang berdasarkan tingkat pemahaman anak.
 
G.     Perkembangan kognitif
1.      Tinjauan (Piaget)
a.       Anak berusia antara 7-11 tahun berada dalam tahap konkret operasional, yang ditandai dengan penalaran induktif, tindakan logis, dan pikiran konkret yang reversible.
b.      Karakteristik spesifik tahapan ini antara lain:
1.      Transisi dari egosentris ke pemikiran objektif (yaitu:melihat dari sudut pandang lain, mencari validasi, bertanya).
2.      Berfokus pada kenyataan fisik saat ini disertai ketidakmampuan melihat untuk melebihi kondisi saat ini.
3.      Kesulitan menghadapi masalah yang jauh, masa depan atau hipotesis.
4.      Perkembangan berbagai klerifikasi mental dan aktivitas yang diminta.
5.      Perkembangan prinsip konservasi (yaitu:volume, berat, massa, dan angka).
c.       Aktivitas yang khas pada anak tahap ini antara lain:
1.      Mengumpulkan dan menyortir benda (mis:kartu baseball, boneka, dan kelereng)
2.      Meminta/memesan barang-barang menurut ukuran, bentuk, berat, dan criteria lain.
3.      Mempertimbangkan pilihan dan variabel ketika memecahkan masalah.
2.      Bahasa
1.      Anak mengembangkan pola artikulasi orang dewasa formal pada usia 7-9 tahun.
2.      Anak belajar bahwa kata-kata dapat dirangkai dalam bentuk terstruktur.
3.      Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan paling penting yang dikembangkan oleh anak.
H.    Perkembangan moral
Pada usia ini, konsep moral anak tidak lagi sesempit dan sekhusus sebelumnya. Antara usia 7-12 tahun, konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar-salah (yang dipelajari dari orangtua) menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Menurut Piaget, “relativisme moral menggantikan moral yang kaku”. Sebagai contoh: Bagi anak 5 tahun, berbohong selalu buruk. Sedangkan bagi anak yang lebih besar, dia sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan; dan oleh karena itu, ia terpengaruh situasi, bahwa berbohong tidak selalu buruk.
v   Tahapan moral Kohlberg:
1.    Tingkat pertama, moralitas anak baik – anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati orang lain dan untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang baik.
2.             Tingkat kedua, moralitas konvensional – yaitu moralitas dari aturan-aturan dan penyesuaian konvensional. Jika kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai bagi semua anggota kelompok, maka anak harus menyesuaikan diri dengan peraturan untuk menghindari penolakan kelompok dan celaan.
Ketika anak mencapai akhir masa kanak-kanak, kode moral berangsur-angsur mendekati kode moral dewasa, dimana perilakunya semakin sesuai dengan standar-standar yang ditetapkan oleh orang dewasa.
Perkembangan moral anak-anak, ditentukan oleh: peranan disiplin, perkembangan suara hati, pengalaman rasa bersalah, dan pengalaman rasa malu.
 
I.       Reaksi anak usia sekolah terhadap penyakit dan hospitalisasi
1.      Tinjauan
                                          i.      Stressor meliputi, takut terhadap mutilasi dan kematian, perhatian terhadap kesopanan.
                                        ii.      Anak usia sekolah mengalami kesulitan dengan ketergantungan yang dipaksakan.
2.      Reaksi terhadap penyakit
a.       Anak usia sekolah menganggap kekuatan dari luar sebagai penyebab penyakit.
b.      Mereka menyadari perbedaan tingkat keparahan penyakit. Misalnya, mereka mengetahui bahwa kanker lebih serius daripada sakit flu.
3.      Reaksi terhadap hospitaliasasi
a.       Mekanisme pertahanan utama anak usia sekolah adalah reaksi formasi, suatu mekanisme pertahanan yang tidak disadari. Anak menganggap suatu tindakan adalah berlawanan dengan dorongan hati yang mereka sembunyikan.
b.      Anak usia sekolah dapat bereaksi terhadap perpisahan dengan menunjukkan kesendirian, kebosanan, isolasi, dan depresi.
c.       Perasaan hilang kendali dikaitkan dengan bergantung kepada orang lain dan gangguan peran dalam keluarga.
d.      Takut cedera dan nyeri tubuh merupakan akibat dari rasa takut terhadap penyakit, kecacatan, dan kematian.
4.      Penatalaksanaan keperawatan
a.       Berikan intervesi umum
1.      Motivasi pengungkapan secara verbal
2.      Motivasi perawatan diri
3.      Motivasi interaksi dengan teman sebaya
4.      Beritahu bahwa anak usia sekolah “boleh” untuk menangis
5.      Berikan informasi factual, gunakan model untuk mendemonstrasikan konsep atau prosedur
6.      Sediakan benda atau aktivitas pengalih
b.      Berikan kenyamanan fisik dan intervensi yang aman
1.      Berikan anak usia sekolah kesempatan untuk mengendalikan seluruh fungsi tubuhnya
2.      Bantu perkembangan keterampilan motorik halus anak. Anjurkanlah hal-hal berikut ini:
a)      Mainan bongkar pasang, seperti satu set Lego
b)      Menggambar
c)      Permainan computer
d)     Menggambar bagian-bagian tubuh
e)      “Membaca catatan” saat ada pendidikan kesehatan untuk pasien
3.      Perbolehkan anak untuk berpartisispasi dalam pengobatan.
c.       Berikan intervensi kognitif
1.      Bantu mengembangkan cara berpikir rasional (berikan penjelasan ilmiah, rasional, dan peraturan) dan bantu membuat keputusan
2.      Bantu anak menguasai konsep konservasi, konstan dan reversibilitas, klasifikasi dan kategorisasi
a)      Biarkan anak untuk mencatat asupan dan pengeluaran urine serta tanda-tanda vital
b)      Anjurkan anak untuk mengatakan kepada perawat kapan prosedur harus dilakukan
c)      Bantu anak membuat buku catatan kecil
d)     Gunakan konsep, seperti kartu atau papan permainan, dalam penyuluhan atau permainan
e)      Motivasi anak untuk mengerjakan tugas sekolah
3.      Berikan waktu untuk, dan dorong anak mengungkapkan secara verbal (bicarakan waktunya)
d.      Berikan intervensi psikososial dan emosional
1.      Berikan kesempatan untuk menyalurkan tekanan
a)      Anjurkan interaksi dengan teman sebaya, penyuluhan kelompok, dan batasi lingkungan
b)      Hindari ruangan yang digabung dengan usia lain
2.      Tingkatkan pencapaian kemampuan
a)      Berikan pujian terhadap cara bermain yang kooperatif
b)      Beri anak tugas yang dapat diselesaikan
c)      Libatkan anak dalam perawatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar